Cari Blog Ini

Kamis, 13 Desember 2012

¤Coret-coret¤

Ok,beranjak dari insPirasi saya pada hari ini. Dan saya mulai menemukan titik terang dari kegalauan tetTarR kececeran.

BerikuT adalah...
TTtTtaraAaA...

LifE is a boOk of journey
straiGht in pRocesS be sentences,pharagraphs,...
SoMetimes u be stopPed,and u seE ur write,"hmMm,i neEd revisioN"u saying..
And when time arRiveD,titTle is last!
U cAn loOk ur boOk with interest and goOd boOk,or boOk withouT soMethIng sPecial,boreD!


uwmmh, maaf yea kalau bahasa inggrisnya salah. kalau bingung artinya, silakan buka kamus. hehehe...

Selaksa Cinta Buat Mama from My Little Sister

Berhubung eh berhubung bentar lagi lebaran....eeeh,hari ibu maksudnya*ignore* maka dari itu saya ingin menyampaikan sebuah puisi. puisi sederhana dan menggunakan bahasa yang kekanak-kanakan, kayak saya yang masih imut-imut*ngaciiiirr...*. tapi kali ini yang akan saya bawakan bukanlah puisi saya ataupun puisi para sastrawan atau pujangga favorit saya. tapi yang akan saya bawakan adalah puisi adek my honey sweety *euh...kagemm adek*.

ekhem,ekhem... cek sound. 1 2 3 tes...
ok, ini dia

Ku tulis puisi ini buat MAMAku tersayang

©MAMA My Everything©

MAMA
cipt: Nadia Syifa
©Mama maafkan aku karna
aku sering mengecewakanmu
aku sering membentakmu
aku sering berkata tidak baik tentangmu
ya Allah betapa dosanya aku
terhadap orang yang sudah melahirkanku.
Yang membesarkan aku dari aku kecil sampai sekarang
terutama mama
dia rela membawa bebanku dari 1 bulan sampai 9 bulan
dan papa dia bekerja keras
supaya aku lahir di dunia ini©
#Maafkan aku#
©MAMA©

hehe, bahasanya anak-anak bangett yaa. tapi salute deh buat adek yang udah bisa bikin karya di usianya yang semuda ini. apresiasi extraordinary daaah buat adek. dan mam, i love you. terus berkarya dek :)

Senin, 02 April 2012

Seroja Bulan Desember

Dia selalu menyanyi. Dan tak pernah satu hari terlewat tanpa menyanyi. Suaranya yang menurutku teramat merdu dan tak kalah dengan suara penyanyi-penyanyi Internasional membuatku mengekang pendengaranku dari memurodifkan suaranya dengan yang lain. Ya, aku sangat tahu persis dinamika voicenya. Namun, dia tak pernah mengikuti kompetisi di bidang olah vokal seperti itu, baginya itu kebahagiaan tersendiri, dan tak berminat untuk mengexpose bakatnya tersebut, padahal menurutku dia sangat berpotensi dan sangat meyakinkan bagiku dia bisa jadi penyanyi Internasional hematku yang sebenarnya tidak terlalu mengerti persoalan seperti itu.

 Kecuali waktu itu. Satu hari bungkam suara emasnya. Namun setelah itu, dia masih bernyanyi.

Namun, nyanyian itu kembali hilang dalam beriak sunyi sudut kosong lima bulan yang lalu. Dan tak pernah terdengar lagi. Kidung dan syair yang dilantunkannya pun,turut terseret jejak lunglainya yang tak bertapak. Rindupun menelusuh menelanjangi duka. “Dia tak kembali”musim berujar.

Dia lenyap digorok luka yang lama dia babat. Sebegitu apiknya. Hingga dalam lagu-lagu yang dinyanyikannya pun, dia seolah seorang putri bertubuh mulus, tanpa satu koreng atau panu pun. Akan tetapi, siapa sangka? dia terhisap dalam telaga keruh yang menjadi kediamannya dan lagi-lagi,dia tak pernah ditemukan mengapung atau nyangkut bersama sampah-sampah yang menumpuk di pinggiran telaga. Rasa sesal yang menghunus tajam tiba-tiba membakar indra pengecapku dalam seteguk kopi yang baru saja ku hirup, lebih lebih lagi dalam dadaku, ngilu tak terperi dihujani anak-anak panah kesendirianku.

Perlahan mutiara jingga turun tahta dan berdiri di belakangku. Kabut langitpun siap menumpahkan embun yang diendus angin, dan menyirnakan kelabu perak pada tetesan Kristal. Gerimis mencemplung di kolam samping, dentingan gradasi yang tehempas di atap seng rumahku dan tergelincir manja dan menitik memantul di air kolam. Ah, kolam. Aku berkaca di cermin cair bergelombang. Ada dia, aku melhatnya.

Putri jingga hampir tebaring di peraduan, meninggalkan kilapnya yang merona. Aku tersadar. “Bulan desember!”. Dia akan datang menjenguk kekagumannya, dan aku mulai mengerti petuahnya. “Bersyukur pada cara yang sederhana”tutur dia dahulu. Ya, dia kembali, sang pengagum hujan. Dia  mekar hari ini. Berbalut gaun merah jambunya.

Jumat, 23 Maret 2012

Jelaga Khatulistiwa

Tanahku tak lagi bunting zamrud
Keemasan di ufuk cakrawala mengeruh,mengerut. . .
Blok-blok yang menjadi syair,tiada bersajak;surut

Bumi pertiwi ditikam keraguan
jumawa meletuskan hasrat,membakar imannya
Merongga arang dalam struktur negriku
Cah,gelarku yang jalang
Kharisma kirana diburai hitam
Sariraku dibekuk fleksibilitas,katanya
Bukankan barbarisme?;sanggahku

Bapak negeri tengadah,menadah ke rakyat
Ujung rimba pun menyempit
Tinggal abu-abu mungkin di depan
Atau,abu!

Sabtu, 25 Februari 2012

Reka Perjalanan Waktu

Dear time,

Aku tak tahu apa ini penting bagimu,tapi ini begitu urgen buatku.Karna aku tak mengerti.Gerak-gerik reka detik di jam pasir yang menghanyutkan langkah-entah bergerak maju-atau bahkan bergeming saja di tempat.Tahukah kamu,ada suatu rabaan yang aneh tentang waktu ini?Dan aku tak tahu keanehan itu menyemburat dari mana,mungkin aku yang ganjil atau memang semua orang merasakan kejanggalan itu.Aku berharap kamu tak terusik dengan curhatku ini ya.

Setiap bayu memuput di siang hari terik,menyembulkan kedamaian yang berarti dalam pangkal jiwaku,aku merasa kembali ke masa kecilku.Dan itu mendebarkan jantungku.Ketika aku terbangun dari tidur di siang hari yang masih sangat terang-sekitar tengah hari atau lewat sedikit-aku seperti berada di posisi saat taman kanak-kanak dulu.Ketika aku memandang langit malam yang tenang aku bagai merasakan nuansa romadhon.Ketika aku sedang di jalan petang hari,dielus pawana sukmaku,aku seperti berada di...ah,dan masih banyak lagi yang kurasakan yag membuat tubuhku seolah dilempar mesin waktu ke masa lalu.Dan mengemas ketegangan dalam dada.Aku tak mengerti apa dan kenapa.Kenapa rasanya jantungku seolah ingin terlepas dari cengkraman kuat yang tertib dalam anatomi tubuhku,seolah dia bergolak sangat keras saat itu.Apa yang membuatku merasakan hal yang demikian?

Mungkin ini tak lepas dari kekuasaan-Nya yang mengaturmu.Kau seolah merangkak sangat cepat.Bahkan ku tak menyadari pertumbuhan fisikku sendiri.Serasa baru kemarin kedua kakakku mengantarkan roti yang bertoping susu coklat dipotong dadu ke TK-ku,serasa kakiku yang mengayuh sepeda sebagai sarana transportasi rumah-sekolah tak begitu banyak hari yang dilewati,padahalkan aku menempuh pendidikan di MTs itu tidak kurang dari 3 tahun(ketahuan bukan siswa aksel),berapa hari coba?Bak beberapa waktu saja yang menjadi momen penting nampaknya yang ku ingat.Rasanya aku yang dulu terbilang pemalu waktu SD(nggak juga sih sebenarnya)sekarang jadi banyak ngoceh,kapan revolusinya terjadi coba?aku sendiri tak sadar akan hal itu.

Sekarang,aku bukan lagi bocah tengil,aku tlah bermetamorfosis menjadi seorang remaja(yang masih tengil).Perubahan demi perubahan yang terjadi tanpa ku rasai.Kini letak waktuku di mana?Berapakah Tuhan kasih aku jatah hidup?Apa waktuku udah di nyentill hampir ke ujung,atau...ya berfikir urusan mati dulu deh.Apa yang telah berubah dari aku dan sekitarku?Katanya berubah,berubah menjadi seperti apa?monster atau bayi?sampah daur ulang atau pajangan berharga?matahari atau bulan?artis atau menejer?kunang-kunang atau lalat?Maka apa aku ini?Aku yang tak bisa meraba kondisi waktu,dan waktu dalam kondisi.Mungkin perkibaran bendera di dada yang begitu sengit ini adalah jawaban.Aku tlah dewasa,banyak saat-saat yang terlewatkan yang mestinya menjadi album manis dalam ukirak sekapur sirihnya.Aku seperti semakin sibuk ketika aku beralih jenjang,sehingga aku tak ingat bagaimana aku di jenjang sebelumnya.Aku seperti mengusir keadaan masa lalu yang bercorak ingusan,menjadi seorang yang congkak luar biasa.Dan mungkin itulah penyebabnya,peradaban yang maju,tlah melenyapkan banyak hal istimewa masa lalu yang juga harusnya dirasakan oleh pucuk-pucuk yang masih berseri saat ini.

Ayo dong time bantu aku menata jam terbang agar bisa melayang lebih tinggi,nggak nyerempet-nyerempet lagi.Aku harus melangkah ke depan karna desakanmu dengan langkah diiringi kaki kecilku,ya tabiat masa lalu yang masih minder sama ketinggian hati.Ok,mari kita berkoalisi.Untuk perubahan dengan jangka yang serapi-rapinya.

by:Kejora Bersujud el-Lail
at home lapuk penuh sejarah

Setelah Ketiadaan Itu

Setelah ketiadaan itu,Dik
Rumah ini menjadi kaku bersayap debu
Setelah hembusan nafas itu,Mah
yang terakhir mengembun telinga,Tangan ini kosong menjelang tidur
Setelah kepergian itu,sayang
Aku lupa berbagai kondisi di ruang ini
Kekasih. . .
Hambar air mata terbendung menyaksikan ini
Kosong...di setiap sudut ruang ada siluet tawamu,kandas suaranya

Tertegun,memeluk jantungmu di jariku
Semua maya sirna rasa
Semu,mati denyut nadi beraroma syahdu
Setelah ketiadaan itu. . .

Caya bintang menjadi belukar
Pendar manja membakar hening
Mencekik ringkasan kenangan yang hampir direnggut bayu,aku kehilangan

Tubuh langit mencurahkan kabut
Mendesak degup yang kalut
Dan bangkitlah...
Dan bangkitlah!
Mencengangkan wajahku mata sembabku
Tetap ada dalam ketiadaan

Setelah ketiadanmu
Ketiadaanku
Dan datang kembali

@February,20 2012
by:el-Lail abdatullaH kholilul Robbul Mu'iz

Selasa, 07 Februari 2012

Sajak Romansa Lazuardi

Mentari bertudung jingga
Debur mengantar sekawanan elang rehat membidik mangsa
Lazuardi bening terbenam di pulau ini
Terkubur pada pesisir kelabu
Gadis kecil itu terpatri. . .
Memelas surya iba padanya
Akan menginap gelap di pantai haru ini,lagi
Rona petang tersenyum ramah
Saga dan masih kelabu endapannya
Oh. . .
Gadis itu,
kerlingan kedip mata lugunya,
bibir pelanginya;
Menyisihkan tabir lazuardi
Terangkai menjadi sajak
Peristiwa berima bergelora

Romansa rembulan di kota maya
Dia berlari
Menghindar atau menikmati,
Derai berlomba bertahta sunyi
Diam. . .
Perpaduan yang manis
Hasratnya ingin kembali besok
Seperti besok yang ia nanti kemarin

Pendar lilin dalam ruang hitam
Cibir cibir akibat badai
Gadis mungil malang,berkawan rintang
Hanya satu yang ia lihat
Setiap detak jarum jam maju tanpa kompromi
Berputar tak enggan,tak tahu malu
Tatapan mata memicing
Sahut serak suaranya membayangi binar lentera;Do'aku padamu Tuhan,yang ingin besok datang
Angin saba miris meredup
Bersahabat meniup rambutnya
Jua titisan ibunya,ketika sangat kanak-kanaknya dulu

Do'a;Yang paling kuat menjaga rahasia dan paling siap membendung air matamu,serta setia memposkan impianmu pada Tuhan
=====================
Impianmu belum usai,sayang!tak kan kandas oleh asinnya laut di singgasana setapakmu